ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5




Daftar isi

Dampak Gempa Bumi pada Pertanian
A.    Skala Gempa Bumi dan Kerusakan yang Ditimbulkan Dipermukaan Bumi.................. 1
I.    kala MMI……. ........................................................................................ .......................... 1
II. Skala Magnitude.................................................................................................................. 8
I.I    magnitude richter.................................................................................................. 8
I.II  Magnitude Gelombang Permukaan.................................................................... 10
I.III Magnitude Gelombang Badan............................................................................ 10
B. Dampak Negatif dan Positif dari Gempa Bumi........................................ ......................... 10
      I. Dampak Gempa Bumi pada Pertanian yang Berpusat Digunung....................................... 11
                  I.I Letusan Gunung Berapi........................................................................................ 11
                  I.II Longsor Akibat Gempa Bumi.............................................................................. 13
      II. Dampak Gempa Bumi pada Pertanian yang berpusat dilaut............................................. 14
                  I.I Kerusakan Akibat Tsunami................................................................................... 14
                  I.II Rehabilitas Lahan................................................................................................ 17
C. Kesimpulan           .................................................................................................................. 18
D. Daftar Pustaka...................................................................................................................... 19
      
Dampak Gempa Bumi pada Pertanian

A.   Skala Gempa Bumi dan Kerusakan yang Ditimbulkan Dipermukaan Bumi

Kerusakan lahan pertanian yang berhubungan dengan gempa bumi tidak lain dilakukan oleh alam.hal ini terjadi karena adanya gejala atau peristiwa alam yang terjadi secara hebat sehingga memengaruhi keseimbangan ekosistem pertanian. Apabila ekosistem pertanian terganggu maka hasil yang akan diperoleh akan kurang maksimal.

Diantara masalah yang ditimbulkan alam untuk merusak ekosistem dan lahan pertanian adalah gempa bumi. Gempa bumi adalah kejadian dimana kulit bumi yang didiami oleh mahkluk hidup baik manusia, hewan, dan tumbuhan mengalami getaran yang sangat dasyat. Getaran yang ditimbulkan tersebut berasal dari lempengan-lempengan yang berada dipusat bumi yang saling bergeser akan tetapi gempa bumi juga bias disebabkan karena hal yang lain misalnya gunung meletus. Gunung meletus akan mengakibatkan gempa karena gunung yang meletus tersebut mengeluarkan lahar dari bumi yang mengkibatkan bumi bergetar.

Gempa bumi sendiri mempunyai berbagai efek pada lahan pertanian. Semua itu tergantung pada ukuran gempa bumi tersebut. Semakin besar ukuran gempa bumi tersebut maka semakin besar pula dampak yang diterima oleh lahan pertanian.

Ukuran/skala gempa bumi merupakan parameter yang sangat penting untuk mengukur kerusakan yang akan ditimbulkan pada lahan pertanian. Skala yang dibahas dalam makalah ini adalah Skala MMI dan intensitas dan magnitude. Kedua ukuran gempa bumi ini sama-sama menunjukkan skala getaran dan krusakan yang akan ditimbulkan dipermukaan bumi. Berikut penjelasannya.
1.     Skala MMI
Pengukuran besarnya gempa bumi pada zaman sebelum manusia memiliki alat pengukur dikenal dengan Skala Intensitas Gempa/MMI. Skala ini memberikan gambaran kualitas dari gempa bumi yang terjadi di suatu lokasi, lebih kepada pengamatan kerusakan yang ditimbulkan dan juga reaksi penduduk di lokasi terjadinya gempa. Skala ini sangat subjektif karena bergantung pada jarak epicenter, geologi setempat, macam dan mutu dari bangunan setempat, dan pengamatan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan panik akibat kekacauan dan kekagetan yang biasanya terjadi pada suatu gempa yang terjadi pada suatu lokasi yang sedang mengalami gempa bumi tersebut.
 Skala MMI (Modified Mercally Intensity) dicetuskan oleh Giuseppe Mercalli pada tahun 1902. Skala pengukuran gempa bumi banyak tapi pada bagian ini akan dibahas MMI. MMI digunakan untuk mengukur seberapa besar kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa pada suatu area. Tidak ada cara penghitungan yang perinci. Kerusakan yang diukur disini adalah ukuran yang ditentukan berdasar hasil pengamatan dari orang yang mengalami atau melihat gempa. Karena dihitung berdasar pengamatan, skala MMI ini tidak sama di setiap tempat semua tergantung tofografi suatu area. Lokasi yang dekat dengan episentrum (pusat gempa) harusnya memiliki skala MMI yang besar sementara yang jauh akan memiliki skala yang lebih kecil.
            Berikut adalah penjelasan ukuran gempa bumi beserta ilustrasi gambar dampak gempa pada kehidupan.
Ukuran 1 MMI
Pada ukuran gembpa bumi 1 magnitude richter Getaran hampir tidak dirasakan kecuali pada orang-oarang yang sangat sensitif pada getaran. Biasanya orang yang dalam keadaan diam atau termenung yang dapat merasakannya.

Ukuran 2 MMI

            Pada ukuran gempa bumi 2 magnitude richter Getaran dirasakan oleh beberapa orang biasanya pada orang-orang yang tidak terlalu fokus pada apa yang mereka kerjakan. Dalam skala ukuran seperti ini juga memberikan efek pada benda-benda ringan termasuk benda-benda yang digantung akan mengalami goyangan-goyangan.
Ukuran 3 MMI
pada ukuran gempa bumi 2 magnitude richter Getaran yang ditimbulkan dirasakan nyata di dalam rumah. Getaran yang ditimbulkan terasa seakan-akan ada truk besar yang lewat didekat rumah. Getaran seperti ini dirasakan oleh hamper semua orang.
 

Ukuran 4 MMI

            Pada skala seperti ini apabila terjadi pada siang hari dapat dirasakan oleh orang banyak yang ada di dalam rumah, benda-benda yang ada di dalam rumah seperti gerabah akan pecah, jendela/pintu akan bergerincing dan dinding-dinding akan berbunyi. sementara orang yang diluar rumah merasakan getaran juga.
Pada ukuran 5 MMI

            pada ukuran 5 MMI Getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, jendela dan sebagainya pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang dan barang besar tampak bergoyang.
Pada ukuran 6 MMI

            pada ukurann 6 MMIGetaran dirasakan oleh semua penduduk. Kebanyakan semua terkejut dan berlari ke luar, plester dinding jatuh dan cerobong asap pada pabrik rusak, kerusakan ringan.
Pada ukuran 7 MMI

            pada ukuran ini getaaran mengakibatkan Setiap orang keluar dari rumah. Kerusakan ringan pada rumah-rumah dengan bangunan dan konstruksi yang baik. Sedangkan pada bangunan dengan kontruksi yang kurang baik terjadi retak-retak bahkan hancur, cerobong asap rumah pecah. Terasa oleh orang yang naik kendaraan.
Pada ukuran 8 MMI

            pada ukuran ini dibagian rumah dengan kontruksi kuat akan mengalami kerusakan ringan. Sementara gejala Retak-retak pada bangunan dengan kontruksi yang kurang baik, dinding dapat lepas dari rangka rumah, cerobong asap pabrik dan monumen-monumen roboh, air yang berada didalam kolam menjadi keruh.
Pada ukuran 9 MMI

            pada ukuran ini, gempa mengakibatkan Kerusakan pada bangunan yang kuat, rangka-rangka rumah menjadi tidak lurus dan terdapat banyak retak-retak. Rumah tampak berpindah dari pondasinya. Pipa-pipa di dalam rumah putus.
Pada ukuran 10 MMI

            pada ukuran gempa seperti inilah yang akan memulai memakan banyak korban dan kerusakan pada bangunan misalnya Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas dari pondasinya, tanah terbelah, rel melengkung, tanah longsor di tiap-tiap sungai dan di tanah-tanah yang curam.
Pada ukuran 11 MMI

            pada gempa inilah akan lebih banyak memakan korban dan kerusakan pada bangunan.pada tahap gempa dengan ukuran 11 MMI Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri. Jembatan rusak, terjadi lembah. Pipa di dalam tanah tidak bisa dipakai sama sekali, tanah terbelah, rel melengkung sekali.
pada ukuran 12 MMI

            pada ukuran inilah Hancur sama sekali pada permukaan bumi. Gelombang tampak pada permukaan tanah. Pemandangan menjadi gelap. Benda-benda terlempar ke udara.
2.     Skala magnitude
            skala magnitude merupakan ukuran besarnya gempa yang lebih kuantitatif, Magnitude menyatakan besarnya energi yang dilepaskan pada titik fokus sehingga skala ini tidak menggambarkan kerusakan seperti pada skala intensitas. Ada beberapa macam skala magnitude gempa, seperti magnitude richter, magnitude gelombang permukaan dan magnitude gelombang badan. Berikut adalah penjelasan tentang macam-macam magnitude.
1.    Magnitude Richter (ML)
Skala magnitude Richter pertama kali diusulkan penggunaannya oleh seorang fisikawan ahli gempa Amerika bernama Charles Francis Richter (26 April 1900 - 30 September 1985). Pertama kali digunakan istilah Richter tahun 1935 ketika ia bekerjasama dengan Beno Gutenberg untuk penelitian di Institut Teknologi California, AS. Dan sejak itu penggunaan skala magnitude richter menjadi makin mendunia.
Skala magnitude Richter (SR) didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum. Amplitudo itu diukur dalam satuan mikrometer dari rekaman gempa oleh instrumen (alat) pengukur gempa (seismometer) temuan ilmuwan (Wood Anderson) pada jarak 100 km dari pusat gempa.

            Ada komponen untuk menentukan besarnya skala magnitude untuk mengukur gempa bumi yaitu amplitudo maksimum yang terekam oleh seismometer (dalam satuan milimeter) dan beda waktu tempuh antara seismometer dengan pusat gempa bumi (dalam kilometer).

            Skala magnitude richter hanya tepat digunakan untuk mengukur gempa. gempa dekat dengan magnitudo di bawah 6,0. Dan bila magnitudo lebih besar dari 6,0 angka yang ditunjukkan oleh SR tidak representatif lagi. Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik atau satuan skala magnitude richter seperti ini. Sehingga
dimungkinkan beberapa instansi timbul perbedaan dalam menyimpulkan besarnya magnitudonya.

            Secara garis besar, skala magnitude richter terbagi dalam beberapa kategori untuk menandai seberapa ruang lingkup kerusakan akibat gempa yang terjadi. Kategori itu sebagai berikut:
1.      Skala richter < 2
Pada skala ini akan terjadi gempa kecil dan hampir tidak dirasakan oleh manusia.

2.      Skala Richter antara 2,0 - 2,9
Pada ukuran ini tetap orang tidak dapat merasakan akan tetapi tetap terekam oleh alat seismogram.

3.      Skala Richter antara 3,0 - 3,9
Pada skala ini getaran sudah mulai dirasakan oleh manusia akan tetapi masih belum  menimbulkan kerusakan pada daerah yang sedanng mangalami atau terkena gempa bumi.

4.      Skala Richter antara 4,0 - 4,9
Pada skala ini gempa bumi sudah dirasakan dan diketahui dengan bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Dalam hal ini kerusakan tidak signifikan. Tapi bagi penduduk di gedung bertingkat tinggi akan merasakan lebih besar goncangannya.

5.      Skala Richter antara 5,0 - 5,9
Pada skala ini bisa mengakibtakan kerusakan besar pada bangunan namun dalam area yang tidak luas. Tembok beton dan dinding biasanya retak bahkan rusak karena gempa sebesar ini

6.      .Skala Richter antara 6,0 - 6,9
Pada skala ini gempa sudah merusak bangunan kecil dan besar hingga radius 160 kilometer dari episentrum atau pusat gempa.

7.      Skala Richter antara 7,0 - 7,9
Pada skala ini tergolong gempa besar dan dahsyat karena bisa mengakibatkan kerusakan yang besar dan area luas lagi dibandingkan dengan skala sebelumnya.

8.      Skala Richter antara 8,0 - 8,9
merupakan gempa dahsyat yang bisa meluluhlantakkan semua bangunan tinggi rendah yang ada hingga berjarak ratusan mil dari apisentrum gempa.

9.      Skala Richter antara 9,0 - 9,9
dengan gempa ini nyaris tak ada bangunan yang selamat dalam radius hingga ribuan mil dari pusat gempa. Dan angka ini merupakan jejak gempa terbesar yang pernah terjadi di bumi karena belum pernah tercatat dalam sejarah ada gempa 10,0 SR sepanjang sejarah ditemukan alat pengukur gempa ini.

2.    Magnitude Gelombang Permukaan (MS)
Pada umumnya gelombang badan untuk jarak epicenter yang jauh, telah lemah dan tak beraturan lagi sehingga gerakannya didominasi oleh gelombang permukaan. Magnitude gelombang permukaan (Gutenberg dan Richter, 1936) didasarkan pada amplitudo gelombang rayleigh dengan periode sekitar 20 detik. Bentuk persamaannya adalah :
MS = log A + 1.66 log ∆ + 2.0
dengan A atau Amplitudo adalah deformasi maksimum tanah (dalam mikrometer) dan ∆ adalah jarak episenter (dalam derajat). Magnitude ini biasanya digunakan untuk gempa dangkal dengan kedalaman focus kurang dari 70 km dan jarak episenter lebih dari 1000 km, dengan kekuatan gempa menengah sampai besar.
3.    Magnitude Gelombang Badan (mb)
Pada gempa dalam, gelombang permukaan terlalu kecil untuk diukur. Untuk hal ini, Magnitude gelombang badan (Gutenberg, 1945) lebih direkomendasikan karena didasarkan pada amplitudo p-waves yang tidak terlalu dipengaruhi oleh kedalaman gempa. Persamaan untuk menentukan magnitude gelombang badan adalah:
Mb = log A – log T + 0.01 ∆ + 5.9
dengan A adalah amplitudo p-waves (dalam mikrometer), T adalah periode p-wave (biasanya 1 detik) dan ∆ adalah jarak episenter (derajat).

B.  Dampak Negatif dan Positif dari Gempa Bumi

Dalam kajian ini, untuk melihat dampak negative dan positif gempa bumi dilihat dari mana gempa bumi itu terjadi atau tempat gempa bumi itu bermula. Tempat sangat memperngaruhi akibat gempa kepada lahan pertanian. Apabila gempa berawal pada tempat yang dekat dengan laut maka dampak setelah gempa bumi dilaut adalah tsunami, sehingga pembahasan yang akan dilakukan adalah dampak tsunami pada pertanian. Baik itu akibat air laut terhadap tanah atau air laut pada tanaman pertanian. Hal ini akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi para petani.
Bagaimana dengan gempa bumi yang berawal pada pegunungan ? pembahasannya adalah mengetahui apa yang menyebabkan gempa bumi itu terjadi. Biasanya gempa bumi yang terjadi pada gunung terjadi karena gunung meletus. Apabila gunung meletus maka gempa bumi akan terjadi dan gampa bumi yang terjadi akan mengakibatkan lahar, asap, dan gas-gas beracun akan keluar. Hal ini akan memengaruhi pada lahan pertanian baik pada tanah maupun pada tanamamn pertania. Dalam makalah ini akan dibahas satu per satu apa-apa dampak negative dan positf gempa bumi yang terjadi dilaut dan gunung.

1.     Dampak Gempa Bumi pada Pertanian yang berpusat di gunung
Dampak gempa bumi pada pertanian apabila gempa berpusat pada gunung akan mengakibatkan bencana-bencana yang lain. Hal ini disebabkan topografi gunung yang sangat memungkinkan bencana-bencana pendukung. Bencana-bencana yang timbul setelah gempa bumi yang berpusat pada gunung adalah letusan gunung dan longsor. Berikut adalah penjelasan tentang letusan gunung dan longsor akibat gempa yang berpusat digunung.
a.      Letusan Gunung Api
Letusan gunung api dapat menyemburkan lava, lahar, material-material padat berbagai bentuk dan ukuran, uap panas, serta debu-debu vulkanis. Selain itu, letusan gunung api selalu disertai dengan adanya gempa bumi lokal yang disebut dengan gempa vulkanik.

Aliran lava dan uap panas akan mengakibatkan lahan pertanian akan terbakar dan musnah. Hal ini juga terjadi pada hutan alam yang ada didekat gunung, hutan akan mengalami kebakaran, sedangkan aliran lahar dingin dapat menghanyutkan lapisan permukaan areal pertanian rakyat mengakibatkan tanaman selain terbakar terkena lava juga akan tertimbun akibat lahar dingin dan menimbulkan longsor pada tanah yang curam.

 Selain itu uap belerang yang keluar dari pori-pori tanah dapat mencemari tanah sebagai lahan pertanian dan air yang digunakan untuk kebutuhan hidup manusia dan tumbuhan pun akan tercemari disebabkan kandung belerang dapat meningkatkan kadar asam yang terkandung air dan tanah. Debu-debu sangat tinggi vulkanis sangat berbahaya bila terhirup oleh makhluk hidup (khususnya manusia dan hewan), hal ini dikarenakan debu-debu vulkanis mengandung kadar silika (Si), sedangkan debu-debu vulkanis yang menempel di dedaunan tanaman pertanian tidak dapat hilang dengan sendirinya. Hal ini menyebabkan tumbuhan tidak bisa melakukan fotosintesis sehingga lambat laun akan menyebabkan daun layu dan kemudian hari akan mati. Dampak letusan gunung memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat kembali normal. Lama tidaknya waktu untuk kembali ke kondisi normal tergantung pada kekuatan ledakan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Akan tetapi, setelah kembali ke kondisi normal, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang subur karena mengalami proses peremajaan tanah.

Dapat disimpulkan bahwa dampak negatif dari gunung meletus pada pertanian adalah :

1.      Lava akan membakar tanaman pertanian.


2.      Debu akan menutupi dedaunan tanaman pertanian sehingga akan mengakibatkan tanaman tidak bias melakukan fotosintesis.


3.      Gas belerang yang keluar dari dalam tanah akan merusak tanah dan air karena akan meningkatkan kadar asam yang terkandung didalam tanah dan air.


Dampak positif dari gempa bumi terhadap pertanian :
1.      Setelah gunung selesai meletus tanah akan subur karena mengalami pemulian.

b.      Lonsor yang diakibatkan gempa bumi


Bencana alam ini dapat terjadi karena proses alam sepeti gempa bumi ataupun hujan yang terlalu banyak menyirami tanah yang terlalu tinggi sehingga tanah tersebut runtuh kebawah ataupun karena dampak kecerobohan manusia. Lonsor  dapat mengkibatkan merusak struktur tanah sebgai area tempat tanaman untuk ditanam, merusak lahan pertanian dengan cara menutup tanaman yang sudah ditanam, pemukiman warga setempat, sarana dan prasarana penduduk serta berbagai bangunan lainnya. Peristiwa tanah longsor pada umumnya melanda beberapa wilayah yang memiliki topografi agak miring atau berlereng curam.


2.     Dampak gempa bumi pada pertanian yang berpusat dilaut

pusat gempa yang terjadi dipusat laut akan menimbulkan dampak secara tidak lansung. Dampak akan diberikan setelah gmpa tersebut sudah selesai. Dampak yang sudah dikenal adalah tsunami. Tsunami bukan hanya merusak lahan pertanian akan tetapi juga merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Tsunami adalah gelombang yang sangat besar. Tsunami umumnya terjadi sebagai akibat gempa bumi di dasar laut, walaupun tidak setiap gempa bumi disertai tsunami. Sebagaimana yang telah melanda Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Pulau Nias pada 26 Desember 2004, tsunami terjadi setelah ada gempaberkekuatan 8.9 skala richter di dasar lautan Indonesia. Gelombang yang sangat besar ini tidak saja menyebabkan lebih dari 100 ribu orang meninggal dan hilang, tetapi juga merusak berbagai fasilitas termasuk lahan pertanian.

Kerusakan lahan akibat tsunami
Kerusakan lahan pertanian oleh tsunami sebagian besar terjadi oleh beberapa faktor yaitu :

1.      Kegaraman (salinitas) dan sodisitas (kadar Natinggi)

Gambar : 1

2.      Endapan lumpur laut

Gambar : 2

3.      Sampah dan puing-puing bangunan

Gambar : 3

4.      Rusaknya infrastruktur irigasi/drainase dan jalan
 
Gambar : 4

Salinitas dan sodisitas yang diakibatkan oleh tsunami terjadi, karena air dan lumpur laut yang bergaram dengan kadar Na yang terlalu tinggi telah mencapai lahan pertanian yang mengakibatkan rusaknya pertanaman (Gambar 1).

Garam sangat  mempengaruhi pertumbuhan tanaman umumnya melalui:
-          keracunan yang diakibatkan penyerapan unsur penyusun garam secara berlebihan, seperti, sodium
-          penurunan penyerapan air, dikenal sebagai cekaman air dan
-           penurunan dalam penyerapan unsur-unsur penting bagi tanaman khususnya potasium. Gejala awal

munculnya kerusakan tanaman oleh salinitas adalah
-          warna daun yang menjadi lebih gelap daripada warna normal yang hijau-kebiruan
-          ukuran daun yang lebih kecil dan
-          batang dengan jarak tangkai daun yang lebih pendek.

Jika permasalahannya menjadi lebih parah, daun akan :
-          menjadi kuning (klorosis) dan
-          tepi daun mati mengering terkena “burning” (terbakar, menjadi kecoklatan).




Endapan lumpur laut yang bergaram (Gambar 2) juga sangat membahayakan pertumbuhan tanaman. Dari survei yang baru-baru ini dilakukan oleh FAO ditemukan bahwa lapisan-lapisan lupur atau liat atau debu hasil darin gelombang tsunami justru mengandung residu garam yang tinggi. Lapisan liat atau debu tersebut sangat mudah diidentifikasi dari retakan-retakan yang menyebar di seluruh permukaan tanah. Disebagian besar tempat, setelah digali sampai kurang lebih sedalam 20 cm dijumpai lapisan keabuan yang masih jelas.

Garam di dalam tanah dapat dicuci dengan baik menggunakan air tawar, tetapi karena lapisan liat/debu ini relatif sulit ditembus air, maka proses infiltrasi yang kemudian disebut pencucian menjadi lambat. Ketika retakan terjadi, dan air hujan mengalir ke dalam retakan-retakan ini, desalinisasi masih tetap lambat. Di beberapadaerah yang relatif kering, garam telah terakumulasi dan mengkristal di permukaan tanah. Sebagai akibatnya, masalah salinitas ini dapat bertahan lebih lama, kecuali diambil tindakan untuk membuang garam tersebut dengan cara penggelontoran dan/atau pencucian.


      Dan akibat gempa dan tsunami, bangunan hancur dan puing-puing bangunan serta sampah tersebar ke lahan pertanian (Gambar 3), rusaknya jaringan irigasi, jaringan drainase, jalan desa dan pematang-pematang sawah (Gambar 4). Hasil analisis Balai Penelitian Tanah menggunakan citra satelit menunjukkan bahwa luas lahan sawah yang mengalami kerusakan mencapai 28.931 ha daerah aceh adalah (Tabel 1).

Berdasarkan tingkat kerusakan lahannya, lahan-lahan pasca bencana tsunami dapat diklasifikasikan menjadi 4 (FAO, 2005) :

Kelas A “kerusakan ringan”

Lahan dengan jumlah puing dan sampah bangunan yang sedikit atau tidak ada, erosi rendah, dan sedimentasi pasir bergaram tebalnya hanya beberapa cm, lahan tergenang beberapa jam, laju infiltrasi yang relative lambat (endapan lumpur liat), dan indeks daya hantar listrik (DHL) < 4.

Kelas B “kerusakan sedang”

Lahan dengan jumlah puing dan sampah bangunan yang tersebar agak merata, erosi sedang, dan sedimentasi pasir bergaram tebalnya > 10 cm, lahan tergenang > 1 hari, laju infiltrasi sedang (tanah/endapan lempung), dan lahan tidak mempunyai fasilitas irigasi/drainase.

Kelas C “kerusakan berat”

Lahan dengan jumlah puing dan sampah bangunan yang tersebar sangat merata, erosi berat, dan endapan pasir bergaram tebalnya > 20 cm, lahan tergenang > 1 minggu, laju infiltrasi cepat, dan lahan tidak mempunyai fasilitas irigasi/drainase serta curah hujan yang relative rendah.

Kelas D “lahan tergenang (lost area)”

Beberapa lahan di pantai barat NAD tetap tergenang air laut, sehingga tidak dapat dimanfaatkan kembali untuk pertanian. Lahan-lahan yang demikian dianggap sebagai lahan yang hilang, yang berarti hilangnya mata pencaharian bagi pemilik atau penggarap lahan tersebut.

Rehabilitasi lahan

a.      Prinsip dasar rehabilitasi lahan

Rehabilitasi lahan pertanian didasarkan pada tingkat kerusakan lahan yang diakibatkan oleh salinitas,macam dan ketebalan endapan lumpur, banyaknyapuing dan sampah, dan tingkat kerusakan infrastruktur serta kapasitas usaha tani yang dimiliki petani baik menyangkut tenaga kerja, sarana produksi, peralatan usaha tani, modal dan lain-lain. Makin berat kerusakannya, makin intensif pula rehabilitasi lahan yang harus dilakukan. Selain itu rehabilitasi lahan juga harus mempertimbangkan jenis masalah yang menyebabkan kerusakan lahan dan lumpuhnya kapasitas sistem usaha tani. Rehabilitasi lahan akibat salinitas berbeda dengan lahan-lahan yang
juga memiliki masalah sodisitas, masalah endapanlumpur dan kerusakan infrastruktur.

b.      Strategi rehabilitasi lahan

Strategi rehabilitasi lahan dirancang dengan memperhatikan tingkat kerusakan lahan. Strategi
rehabilitasi pada setiap kelas kerusakan lahan adalah sebagai berikut :

Kelas  A :

Perbaikan lahan dilakukan tanpa banyak upaya rehabilitasi. Pencucian garam dapat dilakukan menggunakan curah hujan atau sumber air lainnya yangtersedia. Total neraca air selama 4 bulan (contoh Januari - April 2005) cukup untuk mencuci garam.

Kelas  B :

Perbaikan lahan memerlukan waktu dan upaya rehabilitasi yang lebih spesifik. Pencucian garam membutuhkan air dalam jumlah banyak. Total neraca air selama 6 bulan (contoh Januari-Juni) diperlukan untukmencuci garam.

About Step of Dream

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Find us on Facebook

THE HAPPENINGS

top sidebar ads


Top